Kabupaten Bima NTB – Gelombang protes keras datang dari masyarakat Desa Belo, Kecamatan Palibelo. Warga merasa berang setelah wilayah pesisir jalur dua yang sedang mereka rintis sebagai ikon wisata desa, justru disebut sebagai bagian dari kawasan Kalaki dalam promosi yang beredar baru-baru ini.
Bagi warga, penyebutan nama “Kalaki” untuk lokasi yang secara administratif dan historis adalah Lewa Mori merupakan bentuk pengaburan identitas desa yang sangat fatal.
“Ini Lewa Mori, Bukan Kalaki!”
Aspirasi ini memuncak di sela-sela kegiatan Lewa Mori Spot yang digelar pada sabtu & Minggu, 14/15 Februari 2026. Masyarakat yang sedang antusias mempromosikan UMKM dan potensi desa merasa kerja keras mereka “dicaplok” oleh nama besar destinasi lain.
“Kami sedang berjuang membangun desa, membangun lapak, dan menjaga kebersihan di sini. Tiba-tiba diklaim atau disebut sebagai Kalaki. Ini penghinaan terhadap sejarah dan kerja keras orang Belo,” ujar pengurus KNPI kecamatan Palibelo Muhammad Guntur tokoh pemuda setempat dengan nada tinggi.
Persoalan Administratif dan Marwah Desa
Secara geografis, jalur dua Lewa Mori berada di bawah kewenangan Pemerintah Desa (Pemdes) Belo. Protes warga didasari oleh tiga alasan fundamental:
* Marwah Sejarah: Nama Lewa Mori memiliki magnet sejarah tersendiri bagi masyarakat Palibelo yang tidak bisa disamakan dengan Kalaki.
* Kemandirian Dana Desa: Pengembangan spot foto terapung dan pengadaan wahana Fiberglass direncanakan murni menggunakan Dana Desa Belo Tahun 2026.
* PAD Desa: Jika nama yang dikenal publik adalah Kalaki, maka potensi Pendapatan Asli Desa (PAD) bagi Desa Belo terancam hilang karena pengunjung menganggap lokasi tersebut milik wilayah lain.
Kades Belo Pasang Badan
Kepala Desa Belo, Akhmad Fansuri, tidak tinggal diam melihat keresahan warga. Ia menegaskan bahwa pihak luar, termasuk instansi terkait, harus menghormati batas wilayah dan identitas lokal yang sedang dibangun.
“Kami memang sedang menggenjot Lewa Mori sebagai alternatif wisata baru di Kabupaten Bima. Nama Lewa Mori adalah harga mati bagi branding desa kami. Jangan sampai promosi yang niatnya baik malah melukai perasaan warga karena salah menyebut nama lokasi,” tegas Akhmad Fansuri.
Tuntutan Warga
Warga menuntut adanya klarifikasi dan perbaikan penyebutan nama dalam setiap konten promosi, baik dari tingkat Kabupaten maupun media massa. Mereka ingin dunia tahu bahwa keindahan sunset dan view landing pesawat yang mereka miliki adalah Wajah Asli Desa Belo, bukan sekadar perpanjangan dari Kalaki.
“Lewa Mori adalah Lewa Mori. Kami punya potensi sendiri, kami punya kebanggaan sendiri. Jangan paksa kami memakai nama tempat lain!” tutup warga lainnya.(Dhani).
