

Setiap kali gas LPG 3 kilogram langka, kita seperti sudah tahu alurnya. Berita antrean panjang, ibu-ibu mengeluh, pedagang kecil gelisah, dan pejabat buru-buru bikin janji: “Distribusi akan ditambah, pasar akan dioperasi.”
Skenario ini sudah seperti sinetron panjang — dan anehnya, pemerannya selalu sama.
Gas melon ini jelas-jelas subsidi untuk rakyat kecil dan pelaku usaha mikro. Tapi coba jalan-jalan ke rumah mewah, restoran besar, atau gudang usaha sukses — kadang kita temukan si tabung hijau ini nongkrong manis di dapur mereka. Rupanya subsidi untuk rakyat miskin ini punya fans dari kalangan atas.
Jadi, kalau mau jujur, yang benar-benar langka itu bukan gasnya, tapi pejabat dan pengusaha yang tulus meninggalkan gas 3 kg untuk rakyat kecil.
Saking langkanya, mereka mungkin bisa masuk daftar satwa dilindungi.
Biar adil, coba dibalik: rakyat kecil rebutan gas 3 kg, sementara yang mampu beli gas 12 kg atau 5,5 kg malah santai karena stoknya aman. Tapi kenyataan di lapangan justru kebalikannya — yang kuat ikut berebut jatah yang lemah.
Kalau mau masalah ini beres, caranya sederhana: pejabat dan pengusaha cukup memberi contoh. Tinggalkan gas 3 kg, belilah yang nonsubsidi. Tidak perlu operasi pasar berulang kali. Tidak perlu drama “kelangkaan” setiap tahun.
Karena selama yang mampu masih ikut menyeruput subsidi, gas 3 kg akan tetap “langka” — persis seperti keteladanan di negeri ini.(Red).