
Kabupaten Bima, kampoengmedia.com – Sejumlah warga korban kebakaran di Desa Ntonggu, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima, menyampaikan kekecewaannya karena Bupati Bima. Ady Mahyudi, tidak hadir langsung untuk menyapa dan memberikan semangat kepada mereka yang tengah tertimpa musibah.
Kehadiran pemerintah daerah di lokasi kebakaran hanya diwakili oleh Wakil Bupati Bima, dr. H. Irfan, bersama jajaran terkait. Meski Wabup menyerahkan bantuan tanggap darurat, sebagian warga tetap berharap kehadiran bupati Bima sebagai bentuk perhatian penuh terhadap penderitaan yang mereka alami.
“Bupati Bima Ady Mahyudi seharusnya hadir, biar kami merasa lebih diperhatikan. Kami ini sedang susah, rumah dan harta benda habis terbakar,” ungkap salah satu warga dengan nada kecewa.
Musibah kebakaran yang melanda Desa Ntonggu pada Rabu (26/8) lalu telah menghanguskan puluhan rumah dan memaksa puluhan jiwa mengungsi. Hingga kini, warga masih bertahan di tenda darurat dan Rumah Kerabatnya.
Ntonggu dalam Luka: Warga Menangis, Bupati Tak Hadir Menyapa.
Bau Arang bekas rumah warga yang hangus terbakar kini tinggal puing, berserakan di tanah yang dulu menjadi tempat tinggal penuh kenangan. Anak-anak duduk lesu di bawah tenda darurat, sementara para orang tua sibuk memilah sisa-sisa barang yang masih bisa diselamatkan.
Di tengah suasana pilu itu, warga korban kebakaran menyimpan rasa kecewa. Mereka menantikan sosok pemimpin tertinggi di daerahnya, Bupati Bima. Ady Mahyudi, namun yang datang menyapa hanya Wakil Bupati, dr. H. Irfan, bersama jajaran pemerintah daerah.
“Rumah kami sudah rata dengan tanah, tinggal baju di badan saja. Kami ingin sekali Pak Bupati hadir, biar kami merasa lebih diperhatikan,” ujar Halimah, salah seorang korban, matanya berkaca-kaca sambil menggenggam pakaian bekas yang ia pungut dari tumpukan puing.
Bagi warga, kehadiran Bupati Bima bukan sekadar formalitas. Mereka ingin sang pemimpin berdiri di tengah-tengah penderitaan mereka, melihat langsung tangis anak-anak yang kehilangan tempat tinggal, dan mendengar keluh kesah ibu-ibu di tenda tenda darurat.
“Bantuan itu memang penting, tapi lebih penting lagi hadirnya pemimpin. Kami ingin beliau melihat bagaimana penderitaan kami di sini,” tambah, seorang bapak yang kini menampung keluarganya di tenda pengungsian.
Meski Wakil Bupati menyampaikan rasa duka mendalam dan menyerahkan bantuan darurat berupa makanan dan perlengkapan dasar, kekecewaan tetap membekas. Warga merasa, saat luka masih segar, mereka butuh hadirnya sosok bupati untuk menguatkan hati.
Kebakaran hebat yang terjadi pada Senin (25/8) lalu telah melalap puluhan rumah. Sore itu, warga hanya bisa berlarian menyelamatkan diri, tanpa sempat menyelamatkan harta benda. Kini, ratusan jiwa bertahan hidup dengan kondisi seadanya, menanti uluran tangan dan perhatian serius dari pemerintah.
“Semoga setelah ini Pak Bupati Bima bisa datang. Kami butuh doa, semangat, dan kehadirannya,” tutur seorang ibu lain sambil mengelus kepala anaknya yang tertidur di tikar lusuh.
Di balik puing dan air mata, harapan warga masih bertahan. Mereka yakin, dengan perhatian penuh dari pemerintah, luka ini bisa perlahan terobati. Namun hingga saat ini, rasa kecewa karena Bupati Bima tak hadir masih membekas di hati para korban.
REFLEKSI
Di tengah bencana, seorang pemimpin bukan hanya hadir lewat kebijakan dan bantuan material. Lebih dari itu, kehadirannya di tengah rakyat adalah simbol harapan, pelipur lara, sekaligus penguat semangat.
Bagi warga Ntonggu yang kini hidup di tenda darurat, sekadar duduk bersama, mendengar keluhan, atau menggenggam tangan mereka, sudah menjadi obat di tengah luka yang dalam.
Mereka tidak hanya kehilangan rumah, tapi juga sedang berjuang melawan rasa putus asa. Dalam kondisi itu, kehadiran seorang bupati di mata warga sama artinya dengan pesan sederhana: “Kalian tidak sendirian.”