
Pemilihan kepala daerah di Kabupaten Bima sudah selesai. Kertas suara sudah dihitung, pemenangnya jelas: Ady Mahyudi – Irfan. Tapi rupanya, bagi sebagian orang, hasil ini terasa seperti serial drama Korea yang tak mau tamat-tamat. Episode “menolak kenyataan” masih tayang setiap hari di panggung politik lokal dan media sosial.
Ada yang curhat panjang di Facebook, ada yang menyindir di WhatsApp Story, bahkan ada yang masih rajin memancing debat basi di warung kopi. Seakan-akan, kalau belum mengeluh, hidupnya hambar.
Padahal, demokrasi itu seperti pertandingan bola: kalau peluit panjang sudah dibunyikan, skor akhir tak bisa diutak-atik. Mau pemainnya protes, mau penonton lempar botol, papan skor tidak akan berubah. Rakyat sudah bicara, dan bicaranya lewat kotak suara, bukan kotak komentar.
Sikap “belum move on” ini sebenarnya menyedihkan. Sebab energi yang harusnya dipakai membangun daerah malah habis untuk menyalakan api dendam politik. Sementara itu, masalah-masalah nyata di Bima — infrastruktur, pendidikan, ekonomi — tidak akan menunggu sampai semua orang selesai curhat.
Ady – Irfan kini punya PR besar untuk membuktikan bahwa kemenangan mereka bukan sekadar angka di KPU, tapi juga manfaat di lapangan. Dan pihak yang kalah? Ya, tugasnya sekarang bukan mengganggu di tikungan, tapi mengawal dan mengkritik dengan sehat, biar roda pemerintahan tetap lurus.
Bima bukan drama Korea. Tidak perlu berlama-lama di episode “sakit hati”. Saatnya masuk babak baru: bekerja, bukan berkelahi